Posts filed under 'Fotografi'
[Karya] Sedikit Oleh – oleh dari Palembang
Alhamdulillah, perjalanan mudik saya dalam rangka Idul Fitri berjalan aman dan lancar. Walau tanpa terasa seminggu berlalu begitu cepat dan saya harus kembali lagi ke Jakarta untuk melanjutkan roda kehidupan saya (haish kata – katanya… maut!!!).
Di sela – sela kesibukan bersilaturahmi dan menghabiskan empek – empek, saya sempat juga mewujudkan satu keinginan saya: hunting malam di seputar pusat kota Palembang. Walau pukul 20.30 saya sudah harus kembali karena teman yang menemani saya sakit perut (saya sudah buat anak orang masuk angin deh…maaf…).
Ini sedikit saja oleh – oleh saya. Masih agak kurang memuaskan karena banyak kurang tajam. Sepertinya karena shutter speed yang saya gunakan sangat rendah soalnya mau bagaimana lagi, kalau tidak pakai shutter speed rendah, maka foto – foto yang saya hasilkan akan kekurangan cahaya (under). Untung saja saya bawa mini tripod warisan almarhum Ayah saya. Sehingga, masih ada lah foto – foto yang dapat dibuat dengan hasil yang masih bisa dinikmati.
Ini pembelajaran buat saya agar kelak dapat berkarya lebih baik lagi. Monggo dibantai foto – foto saya =)
Keterangan: Shutter Speed 1/20; Apperture f6.3; Tripod
Keterangan: Shutter Speed 1/13; Apperture f6.3; Tripod
Keterangan: Shutter Speed 1/4; Apperture f5.3; Tripod
Keterangan: Shutter Speed 1/8; Apperture f3.5; Tripod
* Sedikit tentang foto yang terakhir. Saat saya sedang asyik konsentrasi mencari komposisi pengambilan gambar Jembatan Ampera yang paling baik, tiba – tiba anak ini berhenti dari perjalanannya dan mengamati saya. Setelah mengambil gambar, saya melihat hasilnya di LCD, karena dia tampak sangat ingin tahu dan menjulurkan kepalanya ke arah saya, ya sudah saya ajak saja dia berbincang. Saya menanyakan apakah foto yang saya ambil bagus? Dengan ceria dia mengatakan bagus banget.. Hmm, saya sempat senyum – senyum sendiri mendengar jawabannya. Sebenarnya, saya sedang terburu – buru karena sudah harus pulang sebab teman yang menemani saya sudah mengirim sms pada saya kalau dia sakit perut, sebenarnya saya masih ingin mencari angle lain lagi bila saja saya tidak mengobrol dengan dia, tapi anak itu sepertinya tidak mau pergi, ya sudah saya ajak saja jadi model saya. Sambil menjadi model saya bertanya – tanya tentang dirinya. Saya tanya namanya, dia mengaku bernama Satria. Saya tanya mengapa dia tidak pakai baju, dia menjawab dia tidak punya. Oh…mood saya untuk melanjutkan hunting jadi hilang.. Saya bingung karena tidak bisa membantu apa – apa, walau hanya sekedar memberi baju saat itu. Dia bercerita kalau sehari – hari dia menyemir untuk makan. Dia kabur dari rumahnya di Lahat pada tahun 2007 saat ayahnya meninggal. Ia meninggalkan ibunya di sana. Saya tanya, mengapa kamu tinggalkan ibumu? Dia tak bisa menjawab. Saya tanya, kamu sudah sholat? Dia jawab mana bisa sholat, badan baju kotor. Saya pikir, iya juga. Haduh lagi – lagi, saya tidak bisa menolong dia. Mau membelikan baju juga toko sudah tutup semua, dan saya tidak punya banyak waktu karena teman saya pun sudah minta pulang. Jadilah, saya hanya bisa memberinya beberapa helai uang, sedikit saja untuk menyambung hidupnya. Saya nasihati dia untuk mendatangi masjid dan minta pakaian di sana, dan untuk segera sholat.
Oia, ada dua hal yang membuat saya berpikir, pertama, saat saya tanya apakah dia punya cita – cita. Dia jawab saya memang tidak pernah sekolah, tapi saya punya cita – cita untuk membangun masjid dan panti asuhan. Wow! Mulia sekali… Saya hanya mengaminkan semoga cita – citanya terwujud. Kedua, dia lalu balik bertanya pada saya, kalo Ayuk (Mbak dalam bahasa Palembang) memfoto – foto ini untuk apa? Untuk majalah? Jeng!!! Pertanyaannya itu tak mampu saya jawab. Karena dalam hati dalam hati saya mengaku bahwa foto – foto ini hanya untuk bersenang -senang. Amat miris bila saya jawab jujur padanya dalam keadaannya yang demikian. Dalam perjalanan pulang mengemudi motor, saya terus – menerus merenungi pertanyaannya itu… Fiyuuh… Seketika saya merasa keputusan saya membeli kamera menjadi keputusan yang kurang tepat, entahlah…
3 comments October 8, 2008
[Peralatan] D40 on Hand!!!
Saya akhirnya memboyong Nikon D40.
Padahal di postingan saya sebelumnya jelas – jelas saya membahas D80 dan berniat membeli D80. Tapi, kalau saya memaksa mengambil D80, bisa – bisa Idul Fitri ini saya ngelonin kamera thok dan tidak bisa menyenangkan orang – orang tercinta di kampung sana, ya karena tabungan saya tersapu bersih demi D80… Tapi toh saya masih bisa berpikir sehat dan tidak seegois itu. Terima kasih kepada bang Daru yang dengan semangat membara mengompori saya untuk mengambil D40 saja ketimbang D80. Terus terang, keputusan ini salah satu keputusan terbaik yang saya buat dalam bulan – bulan terakhir ini.
Ya, Jumat (19/09) sore kemarin, barang itu sudah di tangan saya. Setelah menanti sang mbak yang mengantar namun tak kunjung tiba, padahal saya sudah overtime di kantor… Tepat pukul 17.00 WIB, beliau muncul di depan lobi kantor saya dengan menenteng seplastik besar barang yang saya sudah duga bahwa itu barang yang saya pesan. Saya buka dan terpesona cukup lama, menyadari akhirnya saya jadi juga beli kamera… Saya cek garansinya, kelengkapannya, dan saya coba mengambil beberapa gambar dengan model mbak Danis rekan sekantor saya yang kebenaran masih menanti jemputan sehingga belum meninggalkan kantor walaupun jam kantor sudah lewat cukup lama… Hasilnya sip lah,,,
Karena esok harinya saya tidak ada waktu hunting, walaupun hati sudah menggebu – gebu ingin berjalan – jalan bersama “Sang Kekasih” baru (halaah….), namun ternyata saya mesti bersabar dulu, karena ada agenda yang lebih mendesak hari itu. Baru pada hari Minggu-nya saya berkesempatan. Pagi – pagi benar, saya berjala di sepanjang jalan Raya TMP Kalibata. Kebetulan di sana ada banyak penjual bunga. Jadilah saya memanfaatkan keberadaan mereka untuk jadi model. Saya minta ijin kepada penjual yang tokonya telah buka (sebagian besar toko belum buka sih…) untuk keliling – keliling di sekitar dagangannya dan numpang motret…
Saya sertakan beberapa hasilnya, tapi menurut saya ini masih biasa banget, dan mungkin efek lensa kit yang memang standar saja… (Mulanya saya mencari D40 BO dan lensa 18 – 135, tapi stoknya tidak tersedia di toko tempat saya pesan). Semoga (dan harus) di masa yang akan datang saya bisa menghasilkan karya yang lebih apik lagi…
5 comments September 23, 2008
[Peralatan] Nikon D80
- Nikon D80 (front)
- Nikon D80 (back)
Nikon D80 memang bukan kamera paling anyar di jajaran Nikonian. Karena posisi ini sekarang ditempati Nikon D300. Tapi kenapa saya membahas Nikon D80, karena saat ini saya sedang gencar – gencarnya mencari kamera terbaik buat saya miliki. Terbaik dari performance, dan terbaik dengan budget yang saya alokasikan. Nikon D80 sendiri pertama keluar di Indonesia pada tanggal 9 Agustus 2006 sebagai penerus seri D70s. Dan karena sejak awal saya berniat memilih “agama” Nikon, maka walau di merk Canon ada EOS 450D yang sepertinya fiturnya lebih canggih (saya belum benar – benar mengamati siy,,,), pilihan saya tetap jatuh pada Nikon D80.
Dari perbincangan saya dengan seorang teman di Bandung 2 minggu yang lalu, dia berkata bahwa mungkin kisaran harga Nikon D80 Body Only sekarang sekitar Rp. 7.000.000,- pas. Dia waktu beli beberapa bulan yang lalu masih di harga Rp. 7.200.000,- Kalau sudah pakai lensa zoom 18-135 mm standar, kira – kira ya di harga Rp. 9.000.000,- Dengan budget segitu kita sudah cukup dipuaskan dengan kamera amatir yang beberapa fiturnya sudah seimbang dengan kamera pro (ada fitur image processing engine sehingga dapat melakukan retouch di kamera yang artinya tidak perlu pakai photoshop, fitur ini sama seperti di Nikon D2X yang versinya profesional).
Berikut beberapa fitur menarik dari Nikon D80:
- Image sensor 10.2 MP dengan DX format CCD (crop factor 1.5x, sama dengan D50, D70, D200)
- Image processing engine (serupa dengan D200 / D2X)
- Pengukuran cahaya dengan 3D Color Matrix Metering II, 420 pixel sensor (sama dengan D50)
- 11-area AF system (serupa dengan D200)
- Auto ISO
- Shutter lag 80 ms
- Viewfinder dengan Pentaprisma
- Support SD-HC (SD cards di atas 2 GB)
- Retouch foto dalam kamera
- D-Lighting (shadow / highlight)
- Red-eye reduction
- Cropping
- B/W dan filter lain
- Small picture
- Image overlay
- Multiple-exposure
- Bodi lebih kecil dan ringan dibandingkan D70/D70s
- Menu yang efisien, seperti pada D200
- Baterai lithium EN-EL3e (sama dengan D200)
- Wireless flash terintegrasi (sama dengan D200)
- Aksesoris battery grip (tidak tersedia pada D70/D70s)
Sumber : NIKON
5 comments August 22, 2008

















Abangiparkoe
