Dari Mana Asal Angka Target Pajak?

Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2016 telah mencanangkan besaran target pajak pada angka Rp1.546,7 triliun.

Apakah Saudara mengetahui asal muasal angka target pajak?

Untuk dapat mengetahui asal angka target pajak dalam suatu tahun anggaran, mari kita mencoba memahami beberapa konsep yang membentuk angka tersebut.

Pemerintah Indonesia, sesuai amanat Alinea IV Pembukaan UUD 1945, bertanggungjawab untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Amanat tersebut kemudian ditafsirkan dalam suatu target pembangunan/ tujuan nasional di mana indikator – indikator dan cara pengukurannya dibahas dalam suatu Musyarawah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas). Indikator tersebut dikenal sebagai indikator makro ekonomi, di mana salah satu indicator yang paling utama adalah tingkat pertumbuhan ekonomi. Asumsi makro APBN 2016 menetapkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3%.

Pertanyaannya, apakah arti tingkat pertumbuhan ekonomi 5,3%?

Artinya bertambahnya tingkat kemakmuran masyarakat karena barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat meningkat 5,3% dari Produk Domestik Bruto (GDP) Indonesia. Masyarakat di sini mencakup baik penduduk lokal maupun warganegara asing yang bekerja di Indonesia.

Untuk membantu memahami mengenai PDB, maka dikenal juga istilah Produk Nasional Bruto (GNP). GNP meliputi kemakmuran yang bertambah dari meningkatnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh warganegara Indonesia baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tidak termasuk pendapatan warga Negara asing di dalam negeri. Sederhananya, perbandingan besaran GDP Indonesia lebih besar dari GNP Indonesia. Sedangkan, GNP kebanyakan Negara maju, katakanlah Amerika, justru sebaliknya di mana GNP Amerika lebih besar daripada GDP Amerika.

Selain itu perlu diingat bahwa perhitungan kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi adalah dalam keadaan harga tetap (konstan). Artinya, jika suatu barang mengalami kenaikan harga, sedangkan jumlah barang yang dijual tetap, maka tidak dapat dianggap sebagai suatu pertumbuhan. Contoh: Kursi terjual 100 unit pada harga Rp100.000/unit, maka penjualan total adalah Rp100.000.000. Tahun berikutnya, harga kursi naik menjadi Rp110.000/ unit, jumlah kursi terjual sebanyak 100 unit, diperolah total penjual Rp110.000.000. Kenaikan 10% setara Rp10.000.000 di sini bukanlah suatu tingkat pertumbuhan karena jumlah kursi terjual konstan sejumlah 100 unit.

Kembali ke konsep APBN, negara berbeda dengan rumah tangga/ perusahaan pada umumnya, di mana pendapatan dicari lebih dahulu baru kemudian timbul pengeluaran. Negara menggunakan logika yang berkebalikan, di mana lebih dahulu ditetapkan pengeluaran, baru dicari pendapatannya. APBN tahun 2016 telah menetapkan pengeluaran Belanja Negara sebesar 2095,7 triliun setara sekitar 20% dari PDB Indonesia.

Setelah ketuk palu penetapan besaran Belanja Negara barulah kemudian dibagi ke dalam pos – pos sumber pendapatan. APBN Indonesia menganut kebijakan anggaran defisit. Undang-undang Keuangan Negara dan UU APBN mengamanatkan bahwa besaran defisit yang diperbolehkan maksimal 3% dari PDB. Jika tidak tercapai, maka Pemerintah dinilai tidak berhasil dan berisiko pemakzulan Presiden oleh Legislatif.

Postur APBN Indonesia mengandalkan pendapatan utama APBN dari sektor penerimaan pajak. Menteri keuangan bertindak sebagai manajer kemudian membagi tanggungjawab tersebut kepada dirjen pajak dan dirjen bea cukai. Di sinilah kemudian kontrak antara Menteri Keuangan dengan dirjen pajak terjadi, sanggupkah dirjen pajak terpilih menerima tantangan besaran target pajak yang diminta Menteri Keuangan. Hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa jabatan dirjen pajak pada hakikatnya adalah jabatan politik. Posisi jabatan dirjen pajak tidak pernah tidak mendapat diskresi langsung Presiden, karena di sana ada kontrak politik kesanggupan seorang dirjen pajak yang secara tidak langsung menerima tantangan Presiden.

Ada simbiosis mutualisme yang kental antara Presiden dan dirjen pajak.

daftar pejabat dirjen pajak

sumber gambar

Demikianlah secara sederhananya asal muasal angka target pajak. Target pajak Rp1.546,7 triliun pada APBN 2016 dari total pendapatan Negara yang harus dicapai sebesar Rp1.822,5 triliun atau setara 84,87% pendapatan negara adalah Pakta Bersama antara Presiden dan Dirjen Pajak.

-Medan Merdeka Selatan 13-

January 21, 2016 at 1:58 pm Leave a comment

Kejar Akhirat, Dunia Menyertai

sumber gambar: http://endahwahh.blogspot.com/

sumber gambar di sini 

Saya sedang khawatir.

Pada hari Minggu 28 September 2014 nanti suami akan kembali ke Jakarta, menuntut ilmu di almamater tercinta STAN, setelah hampir sebulan menghabiskan libur bersama di Palembang bersama saya dan anak-anak.

Sebenarnya kalau sudah berpisah, maksudnya suami kembali ke Jakarta sedangkan kami tetap di Palembang, nanti juga perasaan khawatir ini hilang dan kehidupan berjalan baik – baik saja seperti biasa. Hanya saja momen perpisahannya itu terkadang memang selalu membawa perasaan yang cenderung emosional. Agak seperti didramatisir tapi walau kesannya begitu, sama sekali tidak ada maksud hati untuk mendramatisir.

Selama liburan ini kami banyak membicarakan banyak hal tentang rencana, target – target, dan impian. Singkatnya. saya bertekad mendukung keinginan suami untuk bisa meraih gelar MBA di universitas terbaik dunia. Setelah membaca – baca berbagai sumber dan bertanya kepada peraih MBA di universitas luar negeri, MBA terbaik ya hanya ada di Harvard, tidak ada yang lain.

Kuliah di Harvard tentu saja luar biasa sulit. Mendapatkan beasiswanya sulit, minimal TOEFL yang harus dikuasai juga sulit, tapi di balik semua kesulitan yang ada, yang paling sulit adalah harus terpisah dengan pasangan dan anak. Itu hal yang paling sulit. Saat ini saja berpisah 1,5 tahun Jakarta – Palembang perasaan kami terasa amat nelangsa. Pantaskah pengorbanan hidup terpisah untuk ilmu yang kami kejar? Rasanya ada yang salah, mengejar dunia, maka bukankah akhirat akan tertinggal? Seharusnya yang kami kejar adalah akhirat, maka dunia akan otomatis dalam genggaman. Bukankah itu yang benar?

Maka, lalu kami mengurungkan impian ini, impian suami meraih MBA di Harvard. Dengan satu alasan, kami tidak ingin berpisah lama. Kami tidak sanggup.

Lalu, seiring berjalannya waktu, semakin sering kami melihat banyak sahabat yang berangkat meraih pendidikan Master di luar negeri. Kami selalu tertarik mengetahui sahabat – sahabat yang menuntut ilmu ke luar negeri. Sampai suatu ketika, saya melihat kakak senior saya di almamater SMA TN dan STAN sedang mengadakan perpisahan dengan teman – teman wanita seangkatan SMA-nya karena dia kan berangkat ke Birmingham untuk melajutkan studi S2-nya. Luar biasanya karena dia pergi dibersamai suaminya dan kedua anaknya. Semula saya berpikir kebetulan yang sangat langka bahwa mereka meraih keberuntungan untuk studi S2 bersama – sama, kebetulan di kota yang sama. Tapi rasanya ini sulit sekali. Saya pun bertanya – tanya dalam hati. Maka, keesokannya saya menanyakan perihal ini melalui Gtalk ke salah seorang kakak yang hadir pada acara perpisahan itu. Ternyata suaminya yang bekerja di swasta mengambil cuti demi menemaninya studi di Birmingham. Wow! Ini hebat! Saya salut pada kakak ini, pada suaminya, pada mereka sebagai keluarga. Ini baru yang namanya bahagia seutuhnya!

Maka, tentu yang terbayang bagi saya adalah uang yang dibutuhkan. Tentu agar dapat bertahan hidup dengan baik perlu uang untuk kami dan anak – anak dapat hidup cukup, tidak berlebihan, dan bahagia. Jangan sampai menggangu keberhasilan studi adalah syarat utamanya. Kebetulan saat ini saya sedang mengikuti segmen bisnis baru, mulanya hati ini ragu, namun demi alasan ini, saya mengumpulkan kepingan keberanian, membulatkan tekad, usaha ini harus saya coba jalankan. Saya akan mulai menekuni bisnis asuransi sebagai agen asuransi Prudential.

Dari link di sini, saya mencoba menghitung total dana yang saya dan tiga anak saya butuhkan untuk ikut dapat ikut suami ke Boston, angkanya adalah sekitar 2,9 milyar rupiah untuk dua tahun. Beasiswa MBA di Harvard dua tahun kan ya? Lalu saya melihat perhitungan yang dibuat leader saya, bahwa kalau saya menjual produk dengan premi Rp500.000 perbulan setiap minggu, maka setiap tahun saya akan menerima bagian sejumlah 48 juta rupiah. Denga nilai sedemikian saya harus menjual produk selama 60 tahun! Kapan berangkatnya ke Boston?! Padahal, target secepat – cepatnya bisa berangkat ke Boston adalah tujuh tahun. Kenapa tujuh tahun? Karena hal – hal macam dua tahun dalam pangkat, hal – hal harus tercantum gelar sarjana di pangkat suami, semua itu adalah total tujuh tahun. Kalau begitu, saya harus menjual lebih banyak lagi nih dalam seminggu, harus lebih dari Rp500.000,00 perminggu. Bismillah.

Semua ini demi bahagia yang utuh. Bahagia yang utuh adalah kami senantiasa dekat, selalu bersama, menjalani hidup mewujudkan impian kami. Ketika kami dapat selalu bersama, maka semua yang kami lakukan terasa berkah, semua menjadi ibadah. Maka akhirat kami raih, dan dunia akan menyertai. Insya Allah.

Palembang, 23 September 2014

 

September 23, 2014 at 6:00 pm Leave a comment

Passing Out…

And now, the end is near...

And now, the end is near… (courtesy)

Sahur pagi ini, saya mendapat berita yang benar – benar membuat diri ini terkejut dan sedih. Sahabat seangkatan saya semasa SMA meninggal dunia. Padahal beberapa hari yang lalu, almarhum, saya, dan banyak teman seangkatan masih aktif nimbrung di grup WA SMA Angkatan kami…

Yang membuat saya terkejut kedua kali adalah karena jenis sakit yang dideritanya itu, saya mengetahui, namanya autoimmune. Ini sama dengan penyakit yang terjadi pada sahabat seangkatan saya juga semasa kuliah, yang juga telah terlebih dahulu menghadap Penciptanya pada pertengahan Agustus setahun yang lalu. Bedanya sahabat semasa kuliah saya itu sempat agak lama dirawat dan menyadari tentang penyakitnya ini, sedangkan apa yang dialami sahabat semasa SMA saya ini sepertinya berlangsung lebih cepat, lebih mendadak.

Saya tidak kuliah di jurusan kedokteran tapi saya dapat memahami bahwa sepertinya memang autoimmune ini bahasa awamnya adalah kanker. ..kanker dengan berbagai jenisnya tergantung bagian mana yang diserang… kalau sahabat semasa kuliah saya yang bermasalah sepertinya adalah ginjalnya, sehingga tanda – tandanya lebih kentara, gejala yang paling jelas pada air seninya yang tidak jernih dan berbusa, sampai ketika akutnya penyakit itu dalam tiga hari almarhum membuang 6,6 kg air dari tubuhnya. Dari timeline twitternya sahabat saya semasa kuliah ini, saya dapati bahwa beliau masih sangat mensyukuri sakitnya ini, karena rentang beliau sadar akan penyakitnya telah cukup ia rasa untuk mendekatkan dirinya pada Penciptanya.

Sedangkan kalau sahabat semasa SMA saya ini bagian yang diserang adalah darah, sebagaimana informasi yang saya dapat keanehan yang terjadi adalah golongan darahnya yang sedari semula dia sadari adalah O ternyata belakangan berjenis B. Darah berada di dalam tubuh, tidak terlihat kasat mata, sehingga tidak ada yang sadar karena tidak dapat terlihat gejala – gejalanya. Padahal almarhum ini saat masuk SMA TN, saat masuk PLN semuanya sudah tes darah dan tidak ditemukan hal – hal yang tidak normal, semuanya baik – baik saja. Namun baru pada tanggal 25 Juni 2014 yang lalu almarhum mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit Autoimmune Hemolytic Disease. Menurut sahabat saya di grup WA Angkatan, yang paham ilmunya, ini adalah sejenis penyakit kelainan darah di mana sel darah merahnya dikenali sebagai antigen (zat asing), sehingga memicu reaksi antibody untuk memerangi sel darah merahnya, maka sel darah merah menjadi pecah (lisis). Sahabat saya semasa SMA ini meninggal dunia pada 29 Juni 2014 pukul 08.00 WITA.

Almarhum meninggalkan seorang istri tanpa anak. Semoga almarhum diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala salah dan khilafnya. Semoga istri dan keluarga yang almarhum tinggalkan dikaruniai ketabahan, kesabaran dalam menerima musibah ini. Walau begitu cepat sepertinya drop-nya, dan begitu mendadaknya maut menjemput, insyaAllah almarhum masih termasuk golongan orang – orang beruntung, karena bukankah seburuk-buruknya kematian adalah meninggal dalam keadaan membujang karena disengaja? Selain itu, dari timeline media sosial almarhum sepertinya almarhum sempat memiliki anak walaupun akhirnya keguguran. Sekali lagi, semoga istri almarhum dapat bersabar dan mengambil hikmah. Tidak akan dicoba seseorang dengan cobaan yang tidak mampu seseorang memikulnya.

Silent Farewell...

Silent Farewell…

Akhir kata, kematian ternyata begitu dekat. Muda, sehat, tetap saja kematian dekat. Mari sama – sama kita ambil hikmahnya, bahwa tidak ada yang tahu kapan maut menjemput, yang kita tahu hanyalah bahwa kita harus mempersiapkan bekal sebanyak – banyak untuk hari akhir nanti. Jika perbekalan dirasa tak pernah cukup, maka cobalah beramal jariyah. Ada tiga amal jariyah (amalan yang akan terus mengalir walau ybs telah tiada), yaitu: ilmu yang bermanfaat, doa anak shaleh, dan sedekah jariyah (wakaf). Semoga kita sempat menuntut sebaik – baiknya ilmu dan sempat membuat ilmu yang kita kuasai manfaat, semoga kita sempat dikaruniai keturunan, dan kita berhasil mendidik mereka menjadi anak – anak yang shaleh, serta semoga kita dikaruniai kelapangan rezeki, kemauan, kemampuan, dan kesempatan untuk banyak – banyak bersedekah yang mengalir manfaatnya (wakaf masjid yang ramai jamaahnya, wakaf Alquran yang banyak yang membaca dan mengkajinya secara rutin dalam majelis ilmu).

Cukuplah kematian sebagai pengingat…

Untuk suamiku, yang semangat ya menjaga kesehatannya, karena kami khawatir mendengar semakin rutinnya keluhan – keluhan keringat dinginmu… keluhan – keluhan yang kita pahami sebagai masuk angin namun mungkinnya itu adalah gejala – gejala yang lain. Sehatkanlah dirimu demi kami keluargamu.

Bunda Fikri

MNP ~ TN12 ~ STAN’04

Palembang, 30 Juni 2014

Pukul 12.12 WIB

June 30, 2014 at 12:07 pm Leave a comment

Memahami Sekulerisme, Teokratis, dan yang berada di Antaranya

Bentengi diri kita Saudara/i ku :)

Bentengi diri kita Saudara/i ku🙂

Gambar dari sini

Bismillahirrohmanirrohiiim…

Saya mengalami suatu kesesakan di kepala saya…

Kesesakan pikiran yang berjejalan…

Yang saya kira harus saya tuangkan dalam sebuah tulisan…

Tulisan di sini, di blog ini…

Agar kepala ini menjadi lapang kembali…

Dan hati ini bisa menjadi lega.

Saya pikir, semua ini berawal dari sebuah status foto seorang pesohor lama di suatu media sosial. Aksi ini kemudian secara runtut memunculkan reaksi satu demi satu. Satu reaksi di media sosial lainnya itu ternyata diplintir oleh si pesohor lama tersebut. Diplintirnya adalah : beliau meretweet tanggapan yang agak kasar dari akun orang lain, namun dengan menempelkan nama akun seseorang yang saya kenal salih dan santun itu yang kebetulan juga sebelumnya telah berkomentar di timeline si pesohor lama itu dengan komentar yang santun. Ini membuat seseorang yang saya kenal salih dan santun itu menjadi sangat geram.

Geram karena setiap orang yang membaca timeline sang pesohor, yang tentu tidak mau repot-repot mengscroll ke retweet-retweet paling awal serta-merta nimbrung, menjudge seseorang yang saya kenal salih dan santun ini dengan hujaman cercaan tak berujung padahal mereka mencerca apa yang tidak dikatakannya. Lihatlah, betapa berbahayanya pesohor yang semacam ini. Untunglah pesohor ini sudah lama tidak laku dan sudah agak tidak dipakai lagi sepertinya.

Reaksi lainnya muncul di forum dunia maya untuk kalangan internal di instansi saya. Di dalam forum ini sebenarnya saya baru menyadari ada kejadian sebagaimana reaksi di atas. Walau pada mulanya saya juga sudah lebih dulu melihat status foto seorang pesohor lama yang kontroversial itu, hanya sesaat setelah ia mengunggahnya. Si pesohor lama ini menyatakan bahwa agamanya: deeply personal, tapi anehnya, setiap statusnya, setiap aksinya, dan setiap reaksinya, sama sekali tidak menggambarkan profile dirinya sebagai seseorang yang menganggap agama sebagai sesuatu yang deeply personal. Si pesohor lama ini senantiasa vokal melawan Islam….melawan (agama) Allah. Reaksi – reaksi lainnya bermunculan menjadi perdebatan…bahkan lebih jauh lagi…barangkali bisa dikatakan peperangan: perang pemikiran.

Sebelumnya, sebelum saya membahas lebih jauh lagi, supaya ada dasar pengertian yang sama di antara kita, mari kita coba simak dulu pengertian dari sekuler, teokrasi, dan yang berada di antaranya. Definisi ini saya rasa pas sekali. Definisi ini saya peroleh dari seorang penanggap di forum dunia maya untuk kalangan internal di instansi saya tersebut. Seseorang yang tidak saya kenal, namun dari tanggapan – tanggapannya saya dapat menangkap kesan bahwa beliau ini orang yang cerdas dengan pemahaman ilmu yang dalam, sehingga bisa mendefinisikan dan menjelaskan banyak hal dengan pas dan sederhana. Definisi mengenai sekuler/ sekulerisme (dengan berbagai bentukan katanya), definisi tentang teokrasi/ teokratis (juga dengan berbagai bentukan katanya), dan definisi tentang yang berada di antara keduanya. Begini yang beliau sampaikan:

Sejak berabad-abad yang lalu, salah satu sumber tegangan sosial atau konflik peradaban dalam masyarakat dan negara manusia, adalah perbenturan antara otoritas negara dengan otoritas agama. Segala jenis pertentangan, pada skala kehidupan sehari-hari maupun yang lebih luas dan lebih sistemik, sesungguhnya disumberi oleh pertentangan dasar tersebut. Sesudah Abad Pertengahan, peradaban masyarakat Eropa mengalami kebangkitan rasionalisme yang mencerahkan sejumlah kegelapan nilai dasar manusia. Salah satu hasilnya adalah filosofi sekularisme yang secara tegas memilahkan otoritas negara dari otoritas agama.

Sejak itu wilayah agama menjadi sangat terbatas pada lingkar privacy setiap orang. Agama “tidak boleh” seenaknya mengatur kehidupan manusia dari dapur, kamar mandi, gardu hingga istana negara. Ia hanya punya kapling yang hanya menyangkut komunikasi antara individu dengan Tuhan. Lalu-lintas di jalan raya, juga lalu-lintas uang dan birokrasi, bukan agama yang berhak mengaturnya. Teokrasi adalah momok dari masa silam yang tak boleh bangkit kembali dari kuburnya.

Kita memimpikan penyeimbangan yang dewasa serta kemungkinan kerja sama antara dua macam otoritas itu. Kita memerlukan formula kerjasama. Kooperasi dan interdependensi.

Sehingga, bagi setiap perdebatan yang menghendaki garis pemisah yang TEGAS antara :

  1. agama, kepercayaan, ideologi, paham, ajaran, dan apapun istilahnya yang termasuk dalam ranah pengertian tersebut; dengan
  2. negara, pemerintahan yang kesemuanya diejawantahkan dalam suatu istilah yang disebut politik

akan menjadi sulit dipisahkan di sini.

Tidak akan berujung perdebatan ini, kecuali kepada permusuhan antara sesama kita.

Kita orang Islam, pedomannya Al-Qur’an & As-Sunnah.

Saya bukan ahli keduanya, tapi saya tahu 1 ayat.

“Intan surullah hayyan surkum, wayusabbit aqdaamakumm” (QS. Muhammad[47]: 7).

yang artinya…

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Jadi, berhenti mendebat, berhenti kesal, berhenti tertawa, berhentilah Saudara/i ku…

Pahami ini, sadari ini, bahwa ini semua keadaan yang genting dan penting bagi kita semua di sini, orang – orang yang (insyaAllah) beriman, untuk menolong (agama) Allah… Anda semua cerdas, Anda semua mesti tahu cara menolong (agama) Allah… caranya adalah dengan tidak menolong mereka yang tidak menolong (agama) Allah….

Sekali lagi, caranya adalah dengan tidak menolong mereka yang tidak menolong (agama) Allah….

Maka, perdebatan yang terjadi pada masa – masa ini kadang dapat menjadi amat berbahaya jika kita tidak benar – benar kuat – kuat memegang akidah kita. Berhati – hatilah kepada Anda yang tidak kuat – kuat mengenal Islam. Anda mengaku Islam namun tidak mengenalinya. Anda adalah target operasi dari semua perdebatan tak berujung itu.

Jika pembahasan ini terlalu berat bagi Anda dan bahkan bagi saya. Terlalu berat untuk menerima informasi yang begitu deras, namun tidak dibarengi dengan kemampuan (atau mungkin kemauan) dan kesempatan bagi Anda (termasuk juga saya) untuk mengenal agama ini (baca: Islam) secara menyeluruh dalam waktu singkat. Maka, pegang satu hal ini saja untuk membentengi akidah kita pada masa – masa yang genting dan penting ini. Satu hal ini adalah benteng yang bisa meneguhkan keyakinan kita dari setiap pendapat yang bisa amat berbahaya bagi keislaman kita. Satu hal ini adalah ayat di atas. Satu hal ini adalah ayat ini:

Intan surullah hayyan surkum, wayusabbit aqdaamakumm.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Pahami ini, sadari ini, bahwa ini semua keadaan yang genting dan penting bagi kita semua di sini, orang – orang yang (insyaAllah) beriman, untuk menolong (agama) Allah… Anda semua cerdas, Anda semua mesti tahu cara menolong (agama) Allah… caranya adalah dengan tidak menolong mereka yang tidak menolong (agama) Allah….

Alhamdulillahirrobbil’alamiiin.

Selesai.

Untuk semua Saudara/i ku yang beragama Islam di seluruh penjuru negeriku tercinta: Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masyita Nimas Palupi

Fofo

25 Juni 2014

Pukul 17.18 WIB

June 25, 2014 at 5:34 pm Leave a comment

Kisah Komandan Tertinggi, Perwira-perwira, dan Prajurit

jonan

Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi mengenai buku yang saya baca terakhir kali, yang berjudul “Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia”. Saya bukan orang yang hobi membaca. Saya tidak suka membaca koran, majalah, atau artikel di internet. Saya lebih suka mendengar berita di radio dan menonton di televisi. Sudah lama saya tidak membaca buku (dalam rangka bersenang – senang dan minat atau hobi) selain dari buku pelajaran dan peraturan pekerjaan (yang saya baca karena kewajiban dan terpaksa karena saya yang butuh). Selanjutnya, sudah lebih lama lagi saya tidak membaca buku yang berhasil saya selesaikan dalam semalam saja.

Buku ini adalah buku “Jonan dan Evolusi Kereta Api Indonesia”. Buku ini dibeli suami saya karena dipakai sebagai bahan kuliah Management Accounting pada Program Diploma IV Akuntansi, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Kalau suami tidak beli, mungkin saya juga tidak baca, karena tidak tahu ada buku yang menarik seperti buku itu. Saya terus terang sering kecewa membeli buku yang saya kira menarik dari sekilas judulnya maupun sampulnya, namun isinya ternyata tidak menarik. Ini yang membuat saya tidak hobi membaca. Begitu banyak buku di Gramedia, tapi ya itu, saya bingung sendiri memilihnya, seringnya tidak jadi membeli, paling – paling hanya membeli buku cerita untuk anak – anak saya yang masih balita (yang kadang tidak rajin saya bacakan juga ke anak – anak karena seringnya keburu dirobek, atau dicoret anak – anak hehe…).

Singkat cerita, apa yang ingin saya bagi di sini adalah 2 hal yang jelas tampak dari judul buku ini: (1) Pribadi Jonan, dan (2) Evolusi PT. KAI sebagai sebuah Organisasi.

Pertama, pribadi Pak Jonan (yang selanjutnya saya singkat menjadi “PJ”) memang sungguh menarik. Sifat – sifatnya sungguh terpuji. Beliau juga sangat cerdas. Sangat jarang ada orang seperti ini. Saya yang terus terang seseorang yang sangat “memperhatikan” asal – usul pun menjadi sangat bersimpatik. Kharisma PJ sangat sulit dielakkan oleh mereka yang mengenalnya baik secara langsung maupun secara tidak langsung (seperti saya yang hanya kenal dari buku ini).

Sifatnya yang terpuji merupakan pendapat saya setelah membaca kisah PJ yang mendapat perlawanan dari BEM UI yang membela PKL di Stasiun Pondok Cina yang “dibersihkan” PJ demi memperluas lahan parkir yang ujung – ujungnya adalah demi kenyamanan para penumpang Commuter Line sebagai stake holder organisasi yang dipimpinnya. Salah satu anak PKL yang digusur ternyata adalah seorang mahasiswi UI. Singkat cerita, mahasiswi UI yang sedih dan nyaris putus asa itu berusaha mencari informasi nomor HP PJ, yang sungguh ajaib, ternyata nomor HP PJ tidak sulit dicari di internet! Ia lalu menghubungi PJ via SMS. Intinya, mahasiswi itu berkeluh kesah kenapa PJ tega “menutup” satu – satunya mata pencaharian orangtuanya, karena “pembersihan” PKL itu, sang mahasiswi menjadi terancam putus kuliah. Tidak berselang lama, SMS sang mahasiswi ternyata dibalas PJ! Intinya, PJ meminta sang mahasiswa mengikhlaskan pekerjaan orangtuanya yang harus gulung tikar dengan jaminan tanggungan biaya kuliah hingga lulus murni dari kocek PJ! PJ menepati janjinya dengan langsung mengirimkan utusannya ke rumah sang mahasiswa esok harinya. Sang mahasiswi shock. Tetiba mungkin ia merasa tidak di bumi Indonesia lagi!😀

Pribadi yang cerdas, merupakan kesimpulan saya dari prestasi – prestasi yang diraih PJ di bangku sekolah dan karier. Sekolahnya banyak dan semuanya bukan sekolah yang tidak berprestise tinggi di luar negeri. Suami dan saya, yang baru sadar dan terbuka horizon pemikirannya bahwa sekolah yang bisa mencetak pribadi yang berkualitas dan dihargai dunia (memang belum tentu akhirat sih) adalah sekolah di universitas terbaik (yang sebagian besar ada di Amerika) yang memberi gelar MBA. PJ adalah salah satu peraih gelar MBA di universitas terbaik di Amerika. Saya berdoa semoga suami saya bisa mendapat “jalan” untuk meraih cita – citanya memperoleh gelar MBA dari universitas yang menyelenggarakan program MBA terbaik dunia. Aamiin YRA. Selain itu, dalam hal karier, Jonan pernah menjabat sebagai Direktur PT Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (BPUI), sebuah BUMN Lembaga Keuangan. PJ juga pernah berkarier sebagai Direktur Citi Grup sebelum akhirnya didaulat memimpin lokomotif utama PT. KAI. Berikut riwayat pendidikan dan pekerjaan PJ selengkapnya:

IGNASIUS JONAN
Riwayat Pendidikan:
– 2004-2005 : MA Master of Art Program in International Affairs di The Fletcher School,
Tufts University
– 200x : Senior Managers in Government Program, Kennedy School of Government,
Harvard University
– 1999 : Senior Executive Program Columbia Business School
-xxxx : Corporate Governance Program di Stanford Law School, Stanford University
– 1982-1986 : S-1 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Airlangga
Riwayat Pekerjaan:
– 2009-kini : Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia
– 2006-2008 : Managing Director and Head of Indonesia Investment Banking Citi Group
– 2001-2006 : Direktur Utama PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero)
– 1999-2001 : Direktur Private Equity Citi Group
– 1986 : Arthur Andersen.

Pribadi dan sifat PJ menjadi makin menarik, karena walau kiblat kecerdasan intelektual PJ sangat Amerika, namun dilengkapi dengan kerendahan hati yang luar biasa. Kedua kombinasi ini sangat penting untuk bisa menjadi orang sukses. Tidak banyak orang yang bisa mengombinasikan kedua karakter ini. Kebutuhan yang ingin PJ raih sudah berada di puncak – puncak piramida kebutuhan Maslow. Tidak lagi berkutat pada kebutuhan – kebutuhan dasar yang sangat egosentris dan tidak menarik bagi orang lain selain diri si pemilik kebutuhan.

Saya (dan tentunya mayoritas pegawai PT. KAI dan pelanggan PT. KAI, atau bahkan rakyat Indonesia) bersyukur, Menneg BUMN kala itu Bapak Sofyan Djalil, yang dengan keahlian kepemimpinannya berhasil melihat PJ sebagai sosok yang tepat untuk PT. KAI. Ini sungguh bagai mencari mutiara di dalam lautan samudera! Terlebih bersyukur lagi, karena ternyata PJ bersedia mengambil amanah yang berat itu.

Kedua, mengenai evolusi PT. KAI sebagai sebuah organisasi. Saya terus terang saat membaca selalu langsung membandingkan dengan instansi tempat saya bekerja saat ini. Seluruh strategi manajerial yang dibuat sesungguhnya sama persis dengan yang diterapkan di dalam instansi saya. Tantangan yang dihadapi pun sama persis. Saya berani berpendapat bahwa sebenarnya yang dilakukan PT. KAI adalah sebuah revolusi, sesuatu yang lebih cepat dan singkat ketimbang evolusi. PT. KAI di bawah kepemimpinan PJ melakukan revolusi, sedangkan evolusi adalah apa yang terjadi di dalam instansi saya, Direktorat Jenderal Pajak (selanjutnya saya singkat DGT).

Saya berani mengatakan revolusi karena PT. KAI sudah beres memodernisasi organisasinya hanya dalam kurun waktu 4 tahun (2009-2013). Pada saat ini, layanan PT. KAI yang berpedoman pada 4 pilar yaitu Keselamatan, Ketepatan waktu, Pelayanan dan Kenyamanan sudah terasa oleh para Stake Holders. Keempat pilar ini sudah menyangkut seluruh aspek baik dari implementasi Teknologi Informasi (ada sangat banyak Sistem Informasi yang saya baca yang diterapkan di PT. KAI yang saya tidak hapal untuk saya tuliskan satu per satu dalam tulisan ini) untuk tujuan ke luar (pelanggan, pemerintah, investor) dan ke dalam (seluruh pegawai, manajemen, dan outsourcing) sampai pada strategi manajemen Sumber Daya Manusia yang diterapkan PJ dalam organisasi PT. KAI.

Ini menjadi sangat berbeda dengan evolusi, perubahan yang lambat, yang terjadi di instansi saya yang sudah modern sejak tahun 2004, namun modernisasi implementasi Teknologi Informasi sangat belum terasa aplikatif (karena terus terang Sistem Informasi yang berada di DGT beberapa terasa justru merepotkan ketimbang membantu memudahkan penyelesaian pekerjaan). Untuk manajemen SDM, saya sudah berani berpendapat bahwa kurang lebih sudah sama baiknya dan persis langkah-langkahnya seperti yang diterapkan PJ di PT. KAI walau masih kalah di bagian sistem Reward and Punishment yang di DGT tidak bisa seekstrim di PT. KAI karena ini terkait dengan bentuk organisasi di DGT yang masih merupakan eselon I Kemenkeu sehingga masih sangat terikat dan sempit ruang geraknya untuk mengambil tindakan yang baik dengan cepat di DGT. Berbeda dengan PT. KAI yang adalah suatu BUMN sehingga geraknya lebih lincah dan lebih gesit.

Sebenarnya ada satu hal mencolok yang saya rasa juga mempengaruhi lambatnya modernisasi di DGT selain faktor bentuk organisasi. Dari buku yang saya baca tampak bahwa sebagian besar pegawai PT. KAI ternyata adalah lulusan SMA, selanjutnya diduduki lulusan SMP, berikutnya baru SD dan S1 (saya lupa siapa yang di posisi ke-3 dan ke-4), baru terakhir S2. Jumlah pegawai SMA dengan S1 juga ekstrim berbeda jauh. Bukan sekedar perbedaan yang kecil dan tidak sigifikan, ini saya ulang karena maksud saya mempertegas sejelas-jelasnya perbedaan jumlah tersebut. Walau kultur budaya birokrat yang sudah sangat lama hidup di PT. KAI sama dengan di DGT, namun ternyata walau banyak orang yang meragukan PJ dapat bertahan, apalagi mengubah kultur buruk yang ada, toh ternyata PJ berhasil dan itu pun (menurut saya) dalam waktu yang relatif singkat. Berbeda dengan DGT. DGT sebagian besar pegawainya adalah dari D3 dan S1, perbedaan yang ada hanya perbedaan tipis, tidak signifikan. DGT organisasi yang ekstrim gemuk di sumber tingkat pendidikan pegawai kedua tempat ini. Inilah menurut saya yang menjadi alasan utama mengapa modernisasi di DGT sulit dan serba lambat.

PJ yang notabenenya komandan tertinggi, saat memberi komando kepada para prajurit tanpa babibu akan segera dituruti, perwira yang tidak terlalu banyak pun tentu tidak berani bersuara terlalu lantang karena jumlahnya yang sedikit sehingga pada akhirnya juga akan patuh pada komando komandan tertinggi. Pembangkangan pasti ada, tapi hanya berupa angka yang kecil sekali dan suara yang lemah, sehingga dengan karakter kepemimpinan yang kuat akan dapat perlahan – lahan dibasmi oleh sang komandan jika memang pembangkang terus memutuskan untuk membangkang dan tidak patuh. Pilihannya hanya ada 2: patuh atau keluar dari organisasi. Pembangkang yang berjumlah sangat sedikit itu tidak akan bisa bertahan lama karena tidak akan bisa tidur nyenyak hidup dalam tekanan organisasi.

DGT berbeda, komandan tertinggi kami tingkat pendidikannya setara dengan amat banyak perwiranya. Sekali lagi, amat banyak perwiranya! Komandan tertinggi kami kepribadiannya, sebagian besar perwira bahkan prajuritnya berpendapat, tidak kuat. Amat tidak kuat. Selain sama tingkat pendidikannya, sayang sekali, saya berani berpendapat bahwa ada perwiranya yang lebih cerdas dari dia dan lebih kuat kepribadiannya. Hal ini membuat komando komandan tertinggi kadang sangat lemah. Sangat lemah. Jika perwira yang begitu banyak bersatu dan memilih tidak mematuhi perintah, komandan tertinggi tidak bisa apa – apa. Pasrah. Begitu banyak perwira pintar, atau merasa pintar, memilih tidak mematuhi perintah. Coba bayangkan, bagaimana bisa DGT maju seperti majunya PT. KAI? Pasti sangat sulit, kalaupun bisa, pasti sangatlah memakan waktu lama.

Perwira yang terlalu banyak, ada yang memang pintar, tapi lebih banyak yang merasa sok pintar, menjadi sulit diatur. Semuanya merasa pintar, sehingga diskusi menjadi lama dan berkepanjangan. Tidak ada yang mau kalah, karena kembali pada pasal pertama: semua merasa pintar! Tidak mau melaksanakan, karena semuanya ingin memerintah. Saya menemukan ini, di sini! Bawahan yang tidak mau menuruti perintah atasan karena ia menganggap sang atasan tidak sepintar dirinya, mengerikan! Atasan yang kepemimpinannya tidak kuat dan menjadi disepelekan bawahan, menyedihkan! Miris sekali, bagaimana DGT bisa maju? Ini semua terjadi karena rentang pangkat dan pendidikan yang terlalu dekat, bahkan sama. DGT memang bukan organisasi militer, tidak perlu diklat Bela Negara untuk disegani dan dihormati bawahan. Bukan itu substansinya. Itu hanya salah satu bentuk yang berwujud nyata. Tapi harus lebih kepada ruhnya. Ruh itu karakter. Karakter pemimpin yang kuat bukan sekedar kuat. Tetapi kuat yang berisi dan menjadi teladan. Sehingga penghormatan dan rasa segan bisa muncul dalam sanubari orang – orang yang ia komandoi.

Sederhananya, DGT bisa maju jika instansi tercinta ini cukup mengangkat banyak prajurit saja. DGT butuh yang melaksanakan! DGT butuh pelaksana! Jangan terima banyak perwira! Karena menerima banyak perwira berarti menerima banyak calon – calon tukang perintah! Padahal jelas yang DGT butuhkan adalah pelaksana yang banyak! Bukan tukang perintah yang banyak! Pelaksana adalah prajurit – prajurit yang melaksanakan perintah dengan patuh dan benar sesuai perintah perwira. Apa jadinya kalau menerima banyak tukang perintah dibanding pelaksananya? Tidak ada yang mau bekerja! Yang tersisa hanyalah pekerjaan yang terus bertambah dan menumpuk, tidak sebanding antara kenaikan perintah pekerjaan dengan kenaikan jumlah pekerja. Pekerjaan tidak akan habis – habis. Pekerjaan tidak akan bisa tuntas dan pernah rampung!

Komandan tertinggi senantiasa berkoar – koar kekurangan pegawai. Tapi komandan tertinggi harusnya tidak sekedar berkoar kosong, harusnya lebih spesifik lagi! Yang kurang itu pegawai prajurit apa pegawai perwira? Mana yang kurang banyak? Hati – hati loh Ndan… Nanti kalau ternyata diberinya adalah perwira – perwira yang instan akan menjadi pemimpin, bisa pusing sendiri seperti sekarang ini organisasi yang Komandan pimpin. Mau dibagaimanakan juga, diterapkan taktik dan strategi manajemen SDM yang paling handal pun dari pegawai yang meraih Master MSDM yang paling jago pun akan sulit mengakalinya. Makanya Ndan, memang komandan cuma bisa minta, dikasihnya sesuai permintaan atau tidak itu keputusan yang di atas. Tapi sebagai eselon I paling bergengsi harusnya komandan tertinggi punya bargaining power donk, dengan merinci alasan yang jelas dan lengkap pasti Komandan bisa buat permintaan itu. Mudah saja Ndan, yang membuat tidak mudah adalah saat Komandan memerintahkan bawahan Komandan untuk membuatnya ternyata bawahan Komandan tidak menuruti dengan berbagai alasan yang dibuat – buat. Ini terjadi karena ya itu tadi, kembali ke pasal pertama: semua merasa pintar! Mbulet dan peliknya permasalahan SDM di DGT tercinta ini sudah jelas sumbernya: Perwira yang telah terlalu banyak, sama banyak atau malah lebih banyak dari prajurit. Parahnya, keran penerimaan perwira pun terus dibiarkan dibuka deras-deras. Selamat datang permasalahan SDM di DGT!

Oya, selain salah dari proses mengandung dan melahirkan (maksudnya rekrutmen), harusnya kalau mau bisa cepat maju seperti PT. KAI, DGT harus bisa seperti PJ di PT. KAI yang tidak memperhatikan asal tingkat pendidikan pegawai dalam penentuan promosi, karena ternyata dari prajurit pun bisa menjadi Direktur di PT. KAI. Semua bisa, yang dilihat adalah etos kerja. DGT bisa begitu tentunya kalau sudah “bisa” lebih gesit dan lebih lincah lagi sebagai sebuah organisasi. Ini memang domain kekuasaan yang lebih tinggi dari DGT yang bisa take action.

Sepertinya, hari sudah malam, dan saya yang seorang prajurit ini harus kuliah. Saya akhiri sampai di sini catatan “pendek” namun “dalam” ini dengan sebuah harapan menjelma doa, semoga DGT bisa menjadi semaju PT. KAI di bawah kepemimpinan komandan tertinggi yang paling cerdas dan paling kuat. Tidak mesti dengan mengangkat Komandan baru, tetapi bisa juga Komandan lama saat ini, yang berbenah diri dan mengakselerasi kekuatan karakter kepemimpinannya menjadi yang terbaik, disertai dengan akselerasi keahlian dan keterampilannya. Akselerasi ilmu tidak bisa lagi karena sudah mentok. Ini penting agar komando bisa efektif dan cepat terlaksana sampai “akar rumput” (meminjam istilah PJ). Setiap instruksi adalah instruksi yang matang, utuh dan padu sehingga bermanfaat bagi Negara, serta segera dilaksanakan dengan kemampuan terbaik para perwiranya, yang tidak lagi merasa paling pintar, dan prajurit- prajuritnya yang lebih banyak dan patuh. Singkatnya semoga hadir pemimpin sekelas PJ di DGT. Aamiin YRA.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan salah kata. Salam Prajurit!

3 Juni 2014
18.47 WIB

NB: Btw, saya merasa PJ itu agak mirip ya sama HT, ada hubungan keluarga gak ya? Semoga nggak😀

Untuk dilihat juga:
http://www.kabarbumn.com/read-news-9…l#.U46UA7HYEyk
http://sutarko.blogspot.com/2012/09/…sia-lewat.html
http://ekonomi.kompasiana.com/manaje…an-288141.html

 

June 3, 2014 at 6:56 pm Leave a comment

Keripik Pedas

Not my way, not yours, but ours

Our same way

Ibu itu bertutur tentang panglingnya dia melihat sesosok lelaki seusianya di foto pernikahan wanita tak terlalu muda di kantornya. Bukan, bukan tentang poligami lah ya seperti kita yang biasa menduga – duga. Tetapi tentang lelaki yang dihormati tuan rumah pernikahan itu, seperti sedang memberi sambutan mewakili tamu di pernikahan itu.

Ibu itu bertutur bahwa lelaki itu kawan lamanya, saat lelaki itu masih bujang, saat masih bervespa butut. Lelaki itu sekarang tampak sangat perlente dalam setelan jas yang bagus, berwajah bersih seperti tak pernah terpapar terik mentari. Pangling. Bahasa di sini, “La lain nian…” Ya, lelaki bervesta butut itu sekarang seorang terhormat dalam kacamata masyarakat orang pada umumnya. Terhormat karena jabatannya seorang ketua DPRD kota di sini.

Ini zaman ketidakpercayaan, bicara saja dengan kerja. Seperti tidak percaya pria bervespa butut di masa lalu itu sekarang seorang ketua DPRD kota. Pasti dia bekerja, entah seperti apa dia bekerja. Apakah harus selalu langkah – langkah besar? Bagaimana caranya? Pasti sulit kalau selalu langkah besar, pasti ada langkah kecilnya. Entah, yang pasti pria itu mengerjakan sesuatu. Berapa puluh tahun bekerja? Dua puluh tahunan mungkin. Maka kerjakanlah apa yang bisa dikerjakan hari ini. Walau posisi ini mungkin sangat kecil. Sehingga langkah kita juga adalah langkah kecil. Langkah kecil dengan target besar. Seperti sia – sia ya? Semoga tidak, insya Allah tidak. Beban pekerjaan kita memang sangat berat, mungkin menekan jiwa kita, mungkin tidak mungkin mencapai target.

Sesaknya pikiran menghadapi zaman ini, bersabarlah.

Zaman saat nilai – nilai terbaik kita di sekolah – sekolah favorit kita mendapat balasan golongan dua. Saat kerja mengalir deras namun pangkat naik merayap, dan anak muda baru dari sekolah yang membuat pikir dan mulut kita menganga saat ditanya dari mana ia peroleh ijazahnya diganjar golongan tiga! Bersabarlah…

Zaman saat kerja keras kita, dengan segala beban jiwa dan raganya. Beban jiwa yang merindu setelah setengah bulan (dan pastinya bakal menjadi tiga minggu) ayah di Tapaktuan itu tak bertemu anak – anaknya di Depok sana. Beban raga dalam tiket – tiket pesawat, kereta api, travel, bus Damri bandara yang dibayar dengan kocek tunjangan kinerja instansi kita tak bersisa untuk menyenangkan orangtua, kekasih dan buah hati kita dengan benda – benda. Syukur – syukur kalau berhasil dan harus berhasil menyisihkan sedikit demi sedikit untuk ditabung membayar uang sekolah buah hati kita yang semakin tidak masuk akal saja tiap tahunnya. Hanya tersisa letih kita dalam perjalanan darat, laut, udara yang panjang untuk bersua sehari atau semalam dengan mereka. Dan dia tidak seorangan! Ada ribuan ayah seperti dia. Terasa sangat tidak sebanding dan tersia-siakan rasanya triliunan rupiah yang dibagi habis menjadi target masing – masing kita itu oleh kabar penyelenggara negara lainnya yang sehari – harinya tidak seberat kita. Seberat bertemu istri dan anak sebulan sekali dengan kocek remun kita sendiri. Semua itu membuatmu penat ya? Bersabarlah, mungkin paling cepat dua tahun lagi engkau mutasi. Mungkin ke kota asalmu, mungkin juga tidak. Jangan hilang semangatmu kawanku semua.

Barangkali hanya kita abdi negara yang merasa sungkan untuk mengambil cuti di tiap libur dan hari kejepit di akhir tahun. Semuanya atas nama tanggungjawab melekat di sanubari ini. Tanggungjawab mengumpulkan sen demi triliunan rupiah penerimaan pajak sampai detik terakhir tanggal 31 Desember berakhir! Ini sangat sulit, mengumpulkan pajak itu semua sangat sulit. Coba yang tidak merasakan sulitnya, ingat – ingat zaman sekolah harus iuran kelas. Berapa banyak yang membayar tanpa ditagih – tagih? Berapa yang langsung membayar saat ditagih? Berapa yang masih tidak membayar walau sudah ditagih berkali – kali? Terbayang kan sulitnya? Persis seperti itulah sulitnya mengisi pundi – pundi APBN untuk membayar remunerasi Anda semua.

Jadi tidak pantas kalau ada yang marah saat kami kritik supaya mbokyao jangan disia – siakan anggaran ini. Kami pantas protes keras untuk tiap remun yang telah kami kumpulkan untuk membayari pengurus negeri ini. Supaya kita terurus, Supaya kita tidak susah terus. Supaya tidak hanya menjadi sia – sia dalam konsinyering di hotel – hotel mewah yang mahal di tiap akhir tahun. Apa tidak bisa memakai fasilitas yang telah ada saja supaya hemat? Supaya tidak sia – sia dalam perjalanan dinas yang terlalu sering, yang tidak begitu penting, yang tanpa Anda pergi pun tidak akan ada masalah berarti karena semuanya akan tetap berjalan baik – baik saja? Seberapa sering Anda berperjalanan dinas dalam sebulan? Kalau sering betul, kenapa tidak mutasi saja sekalian ke sana? Biar hemat, biar tidak perlu negara ini terus – menerus mengongkosi. Tidak mau kan mutasi ke sana? Kalau tidak mau, maka jangan terlalu berlebihan lah intensitas belanja perjalanan dinas itu. Kalau anggaran yang Anda minta jadi tidak terserap ya sudah kembalikan? Berarti Anda salah toh merencanakan? Jadi wajar kan kalau tahun berikutnya anggaran Anda dikurangi? Karena kan nyata – nyata kelebihan. Pasti tidak mau dikurangi ya? Nah makanya yang pintar supaya kalau kelebihan ya tidak kelewat banyak kelebihannya sampai harus dihabisin dinas di hotel.

Oh ya ampun…

Ini zaman ketidakpercayaan, bicara saja dengan kerja. Kerja yang tidak asal –asalan anggaran habis. Input anggaran Anda jelas, Seberapa jelas outputnya? Kalau jelas, apa ongkos anggaran yang membayari output itu sebanding? Tidak kemahalan? Coba dirasa – rasa. Mudah menjawabnya atau susah? Atau terus jadi bingung sendiri? Kalau bingung sendiri, berarti ada yang harus diperbaiki.

Kalau di sini, input kami tahun ini Rp5,4 triliun. Target output kami Rp1.110,2 triliun. Jadi biaya kami 0,486 persen. Jadi tolong ya, pakai untuk membangun negeri ini dengan output yang tidak asal – asalan. Semoga tahun ini kami berhasil meraih target 100%, karena sudah beberapa tahun ini sulit sekali ekonomi negara kita, sehingga kerja kami makin sulit. Tahun kemarin kami juga kesulitan, sehingga hanya mampu mendapat 1.099,9 triliun. Hanya 96 persen dari target sepanjang tahun lalu Rp 1.139,32 triliun. Anggaran kami saat itu Rp 4,9 triliun. Biaya kami tahun lalu bahkan lebih rendah dari tahun ini yaitu 0,43 persen.

Mungkin yang membaca tidak percaya, mungkin…

Tapi kembali ke pasal awal, ini zaman ketidakpercayaan, bicara saja dengan kerja. Tapi bukan kerja yang asal kerja. Bukan kerja yang tidak dianggap. Bukan kerja yang kenapa sampai bisa tidak dianggap? Apa ada yang salah sampai data yang mahal itu sampai tidak dipergunakan? Kenapa coba? Hayo? Bingung kan?😀

Ini tentang mengajak kerjasama. Tentang mengkritik untuk membangun. Bukan tentang saling menyalahkan. Bukan tentang malu kepada kelompok orang yang salah arah. Ini tentang mengajak ke arah Tata Kelola Pemerintahan yang Baik. Ini tentang menyadarkan keluarga terdekat kita tentang kecerdasan, alih – alih kesombongan seperti yang dituduhkan. Ini memang tentang menjaga perasaan. Namun perasaan yang dijaga harus di arah yang benar. Ini tentang menyayangi kerabat kita agar tidak menjadi bagian yang berjalan di arah yang salah. Walau salah itu dilakukan semua orang. Tapi tidak kita, tidak keluarga kita.

Untuk dibaca:

Tentang perjalanan dinas yang dikritik

http://eksnews.com/detail-2340-anies-baswedan-kritik-rp-23-triliun-apbn-untuk-perjalanan-dinas.html

Tentang tugas kami tahun ini

http://www.pajak.go.id/content/target-pajak-2014-tembus-diatas-seribu-triliun-ini-strategi-pencapaiannya

Tentang input organisasi kami tahun ini

http://www.beritasatu.com/makro/138279-ditjen-pajak-dapat-pagu-anggaran-2014-sebesar-rp-54-t.html

Tentang usaha kami tahun lalu yang jangan dipakai untuk asal kerja tahun ini

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/01/06/1438185/Realisasi.Pendapatan.Pajak.2013.Capai.Rp.1.099.Triliun

Tentang angka – angka yang menuntut kerja keras untuk tak disia – siakan orang lain

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=13

Tentang cost collection ratio

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/06/18/mokp9k-target-naik-pendapatan-naik-anggaran-ditjen-pajak-cenderung-turun

Tentang kami yang butuh dukungan Anda demi negara kita juga

http://finance.detik.com/read/2013/11/21/141555/2419680/4/dirjen-pajak-sebut-hasilkan-rp-184-miliar-dengan-anggaran-rp-1-miliar

 

January 21, 2014 at 3:30 pm Leave a comment

Murung Mendung

Aku kira, tidak akan sesedih ini hatiku jika memang harus tiba saatnya. Saat di mana harus terpisah jarak. Saat aku di sini membersamai anak – anak. Saat dia di sana menempuh pendidikan impiannya. Semuanya tentu atas nama demi kebahagiaan keluarga ini. Ada rasa sepi baru di hati ini.

Mandiri seperti telah lama pergi dari diri ini, sesaat setelah kebersamaan senantiasa hadir di antara kami. Hanya tersisa ketergantungan pada sang imam. Sang imam akan pergi, agak lama dan tidak jarang terlihat. Tempat bergantung seolah – olah hilang karena tak kasat mata, tak bisa hadir sesukanya.

Hatiku murung, pikiranku mendung. Ada banyak kekhawatiran berkelebat gelap mengisi ketidakhadiran sang imam dalam keseharianku.

Wahai Yaa Nur… berikanlah cahya-Mu dalam gelap kesendirianku.

Wahai Yaa Hadi… berikanlah petunjuk-Mu dalam setiap kebuntuan masalahku.

**

12 Desember 2013
Pukul 17.00

December 12, 2013 at 5:09 pm

Older Posts


Voting

Salam hebat!



Assalamu’alaikum Wrwb. Selamat datang di blog saya, terima kasih sudah menyempatkan untuk mampir =D Blog ini sudah bermetamorfosis… setelah lama tak dibuka. Sedikit saja catatan lama, yang ternyata saya sudah banyak lupa,,, tidak pernah ingat bahwa saya pernah melakukannya. Saat saya baca ulang, ada tanya? Apa iya saya pernah melakukannya? Pasti iya, karena tidak mungkin orang lain yang menulisnya. Ini sedikit catatan tentang saya, untuk dibaca agar tidak lupa… Barangkali berguna bagi para pembacanya. :) Semoga… Oh ya... Saya menulis karena saya merasa tidak memiliki kemampuan verbal yang baik. Saya menulis karena tulisan bisa diedit... bisa dihapus... dan... bisa mengingatkan jika lupa. Ayo kita tulis saja, apa - apa yang berguna... Wassalamu’alaikum wrb. :fofo

Statistik Blog ini...

  • 32,876 hits

Sponsor…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 290 other followers